S
ejak umur saya masih sekian bulan & masih tinggal di madura, saya sudah punya pengasuh, namanya Yu Nem. Sampai akhirnya saya pindah ke jogja saat umur 3 tahun dan masuk TK. Tiap hari berangkat dan pulang sekolah saya minta digendong di punggung pakai selendang.
Dulu waktu saya TK, saya sudah diajari membaca. Eyang saya guru, termasuk yg killer, beliau mengajari saya tiap sore (tentunya dengan ujung kemoceng yg siap mampir di bokong, kalau saya tidak patuh). tiap saya selesai dimarahi, saya selalu masuk ke dalam rumah, kemudian membuka buku pelajaran ABC, berlagak seperti guru, memegang 'penebah kasur' dan memaksa yu Nem jadi murid saya. Kebetulan dia memang tidak bisa baca. Nah, kalau dia tidak menurut, saya, sebagai guru kecil titisan eyang, ngamuk-ngamuk.
Saya memang nakal. Hampir tiap pulang sekolah selalu dijemput teman-teman sekampung buat main, mulai main kelereng, main di kali, karambol, main karet, manjat pohon sampai taruhan stiker. Agaknya saya memang separo laki-laki separo perempuan :P
Saya melakukan segala cara supaya saya nggak perlu tidur siang. Pernah sekali saya dikunci Yu Nem dari dalam waktu saya kepingin sekali main hujan-hujanan di halaman. Tiap kali nakal saya kumat, saya dimarahi eyang dan diancam akan dimasukkan ke Prayuwono, sekolah anak-anak nakal di dekat alun-alun, Yu Nem-lah yang menangis dan membela saya.
Beberapa tahun kemudian, dia dijemput anaknya karena dijodohkan dengan seorang duda tak dikenal, yang di kemudian hari saya tahu itu adalah pernikahan ketiganya.
Bertahun-tahun kemudian, di tahun-tahun awal saya masuk kuliah, Yu Nem kembali ke rumah kami karena suaminya meninggal.
Kami nggak pernah akur, sering berebutan chanel TV (saya paling benci sinetron indonesia) dan saya selalu kesal waktu dia mengadukan saya yang diam-diam memakai line telkomnet instan berjam-jam (dengan tagihan yg memang gak worthed sama sekali!).
Setengah tahun belakangan Yu Nem lebih sering merasa capek dan sakit-sakitan. Dia menolak makan, dan hampir tidak pernah minum air putih. Kakinya bengkak-bengkak, ternyata karena jantungnya tidak bisa memompa darah dengan lancar dan satu ginjalnya tidak lagi berfungsi.
Dia bersikeras menemani saya sampai menikah, tapi karena kondisinya yang semakin parah seminggu sebelum pernikahan saya dia minta dipulangkan untuk berkumpul dengan keluarganya.
Kami menengok sebelum pulang mudik lebaran, sekalian menunjukkan foto-foto pernikahan saya dan Rio.
Yu Nem kelihatan lebih kurus dan mulai susah berjalan. Dia sangat ingin kembali ke rumah kami begitu sehat.
2 hari ini entah kenapa tiba-tiba saya kepikiran buat pergi menjenguk Yu Nem lagi di desanya sekalian membawakan barang-barangnya yg masih ketinggalan, termasuk album foto yg selalu dibawanya kemana-mana. Album berisi foto saya dan dia waktu masih kecil. Saya yang selalu dibangga-banggakannya.
Yu Nem meninggal tadi pagi pukul 4.30.
And I just don't know how to stop my tears...
Labels: just for share